menjadi-youtuber
Dunia Anak Dunia Orang Tua

Cita-cita Anak-anak Sekarang, Semua Ingin Menjadi Youtuber?

Anak-anak ditanya tentang cita-citanya, kira-kira apa yang paling mereka minati saat ini? Ketika keadaan anak dulu, jelas kondisinya beda sekarang. Kalau dulu, jelas jadi presiden, dokter, astronot, pilot, masinis mungkin atau malah PNS? Rupanya sekarang berbeda. Mereka ingin menjadi seorang Youtuber profesional.

Mengapa Menjadi Youtuber?

mengapa-menjadi-youtuber

Dalam pikiran anak-anak, sebenarnya termasuk pragmatis. Melihat yang memang kelihatannya enak. Menjadi Youtuber, dalam imajinasi anak-anak, terkenal dan kaya. Terkenal karena video sang Youtuber ditonton oleh ribuan atau jutaan orang. Sedangkan kaya, bisa jadi melihat penghasilan dari Youtuber yang dipamerkan dalam channelnya.

Bagaimana cara melihat kenyataannya dengan data yang ada? Ternyata sudah ada yang melakukan survei. Pada Kamis (25/7) Lego, sebagai salah satu perusahaan mainan telah mensurvei sebanyak 3.000 anak-anak dengan usia antara 8-12 tahun dan berasal dari Amerika Serikat dan Cina Serikat. Sepertinya yang disebutkan terakhir ini tidak perlu pakai Serikat juga deh.

Lalu, bagaimana hasilnya? Positif atau negatif? Rasanya positif atau negatifnya nanti dulu, yang jelas hampir sepertiga pada obyek survei menjawab bahwa mereka ingin jadi YouTuber saat dewasa nanti. Sedangkan 11 % lainnya ingin jadi astronot. Namun, tidak disebutkan di sini tentang keinginan anak bikin video Youtube di luar angkasa saat jadi astronot. Bisa saja bukan?

Ada yang menarik dari pembahasan survei ini, yang jelas-jelas bukan untuk survei kuis Family 100. Rupanya, jawaban yang diberikan bervariasi dan tergantung dari asal anak-anak. Pada anak-anak Amerika, tertinggi adalah cita-cita menjadi YouTuber professional atau vlogger. Sementara di China, justru yang lebih populer adalah cita-cita menjadi astronot.

Penelitian itu menerangkan bahwa anak-anak di Cina sebanyak tiga dari empat anak atau 96 persen percaya bahwa manusia suatu saat nanti akan hidup di luar angkasa atau tinggal di planet lain. Makanya, astronot yang lebih banyak dipilih. Sedangkan di Inggris cuma sekitar 63 persen, di Amerika berkisar 68 persen. Anak-anak Cina sebanyak 95 % menjawab “ya’ waktu ditanya apakah ingin pergi ke luar angkasa? Pada pertanyaan yang sama, di AS sebanyak 70 % dan Inggris 63 %.

Cita-cita Setinggi Langit

Kiranya masih berlaku sampai sekarang, bahwa meraih cita-cita itu haruslah setinggi langit, bukan malah setinggi langit-langit. Apakah menjadi Youtuber itu termasuk cita-cita yang setinggi langit? Bisa ya, bisa juga tidak. Kalau iya, maka harus menjadi Youtuber yang bermanfaat untuk orang lain. Misalnya membuat konten tentang pendidikan, motivasi hidup, kesehatan, keluarga dan lain sebagainya. Namun, jika isinya adalah hanya seputar game, permainan dan animasi bentuk kartun, kiranya masih setinggi langit juga, tapi lebih lengkapnya langit-langit.

Ketika anak-anak ingin menjadi Youtuber dengan alasan ingin kaya dan terkenal, orang tua perlu mengarahkan. Bahwa menjadi Youtuber itu otomatis akan menjadi santapan banyak orang. Anak-anak muncul di internet, apakah sudah murni terbebas dari yang namanya kejahatan? Bukankah banyak juga channel anak-anak di Youtube? Apakah orang tua memang mendukung anaknya menjadi Youtuber?

Mungkin bila orang tuanya artis, maka anak-anaknya bisa menjadi Youtuber juga. Apalagi jika orang tuanya Youtuber juga. Jadi kompak deh. Satu keluarga bisa menjadi Youtuber semua.

Membahas Lebih Dalam Cita-cita Anak Menjadi Youtuber

cita-cita-anak-menjadi-youtuber

Sekilas, menjadi Youtuber itu tampak menarik. Upload video, ditonton banyak orang, menjadi terkenal dan kaya. Contohnya di Indonesia, Atta Halilintar atau Ria Ricis. Mungkin kedua sosok itulah yang sering dilihat anak.

Akan tetapi, mari kita mengulik lebih dalam tentang menjadi Youtuber ini. Bisa kita lihat dulu pada kepribadian dan sifat anak. Sebab, untuk menjadi Youtuber yang berhasil perlu beberapa cara, di antaranya:

1. Punya Kreativitas

Inilah syarat pertama cara menjadi youtuber. Masa mau bikin video sama persis dengan orang lain? Tentu tidak dong. Youtube adalah tempatnya orang-orang kreatif. Ada video yang unik, lucu, aneh dan tentu saja bagus, maka akan cepat punya penonton setia.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka terlihat kreatif juga? Anak kreatif itu misalnya punya inisiatif terhadap mainannya. Dia bongkar, pasang, sedemikian rupa. Bahkan sampai mainan itu lebih dari rusak. Lho, maksudnya bagaimana itu? Jelas mainan yang rusak masih bisa dimanfaatkan. Hasilnya, bisa malah tambah rusak. Hem…

Anak kreatif juga tandanya selalu ingin selalu yang baru. Di sini tidak selalu mainan baru, tetapi dari benda-benda yang ada, bisa dijadikan mainan. Asal tidak berbahaya, maka itu tidak ada masalah.

2. Suka Menulis/Menggambar

Cara menjadi Youtuber sukses itu memang tidak gampang. Tidak asal membuat video sembarangan, lalu upload ke Youtube. Bisa dilihat dari konten-konten di Youtube kita. Banyak yang isinya sampah. Dan memang tentang pengelolaan sampah di suatu daerah. Maksudnya di sini adalah isinya tidak bermutu, bermanfaat, membuang waktu untuk menontonnya dan paling utama adalah membuang paket data kita. Bisa jadi, karena video itu tidak dipersiapkan dengan benar.

Cara menjadi Youtuber yang menghasilkan uang adalah juga pandai dalam menulis. Apa yang ditulis? Tentunya adalah judul video, penjelasan tentang video, hal-hal yang dibicarakan di dalam video dan lain sebagainya. Termasuk nanti ketika promosi video di media sosial. Semua itu butuh kemampuan menulis yang cukup luar biasa.

Bagaimana dengan si anak andai dia bercita-cita menjadi Youtuber yang sukses? Apakah suka menulis, menggambar atau mencoret-coret sesuatu di kertas? Anak yang suka menulis, maka kecerdasannya akan meningkat. Karena antara pikiran dengan gerakannya menjadi bergerak bersama. Tidak cuma coret-coret di kertas, tetapi suka menghadapi buku. Termasuk buku bagus-bagus, eh, dicorat-coret juga. Bisa jadi, kemampuan menulisnya berkembang dari situ.

3. Rajin Mengamati Sesuatu di Sekitar

Youtuber selalu berusaha mencari sesuatu yang baru. Makanya, otak kreatifnya selalu berupaya mengamati sesuatu yang ada, yang lama, bagaimana caranya agar bisa muncul menjadi sesuatu yang berbeda? Mungkin mengamati dari video lain. Melihat fenomena di masyarakat. Atau sekadar hal-hal sederhana seperti kucing bertelur, maksudnya melahirkan, ada tetangga sedang memperbaiki rumah, orang tua menanam bunga yang baru dan lain sebagainya.

Dari tiga ciri itu, apakah sudah ada pada diri anak? Bila ada, ya, bisa jadi cocok jika cita-citanya itu menjadi Youtuber yang berhasil. Namun, kalau tidak, ini yang jadi masalah. Jika anak-anak disodori terus HP maupun tablet, terus lengket sekali dengan itu, lalu bercita-cita menjadi Youtuber, sepertinya itu akan menjadi cita-cita yang semu. Bahkan, andaikata cita-citanya bukan Youtuber sekalipun, tetap masih kurang cocok. Anak-anak yang pasif, bahkan cenderung malas. Miskin inovasi, kurang kreativitas, terkesan manja dan mau dipenuhi segala keinginannya. Preett..

Cita-cita Mulia Anak-anak

cita-cita-mulia-anak-anak

Anak-anak masih belum bisa membayangkan keadaan di masa yang akan datang. Mungkin dalam pikiran mereka, Youtube itu akan eksis selamanya. Bahkan mungkin sampai setelah hari kiamat. Tentunya ini hil yang mustahal alias hal yang mustahil.

Anak-anak perlu diberi pengertian bahwa teknologi itu akan selalu berkembang. Semakin maju dan justru semakin tidak menentu. Perusahaan yang dulunya eksis bisa tergilas oleh perkembangan zaman. Apalagi perusahaan-perusahaan lama, yang miskin inovasi dan selalu berpatokan pada keberhasilan masa lalu, maka akan sangat sulit untuk bertahan di masa sekarang ini. Banyak perusahaan baru, yang cuma dilihat sebelah mata. Kelilipan ya matanya?

Apalagi melihat dari sifat dan kepribadian anak-anak, tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan anak kembar sekalipun, berbeda sidik jarinya, baik jari di tangan, maupun jari di kaki. Adakah yang sampai meneliti sidik jari kaki? Orang tualah yang lebih tahu tentang anak-anaknya, karena melihat sejak lahir. Dan terus mengikuti sampai usia sekarang ini.

Nah, pada satu sisi, ada anak-anak Indonesia yang bercita-cita menjadi Youtuber, entah ketika masa sekarang, atau nanti ketika dewasa. Namun, pada sisi lainnya lagi, justru ada orang tua yang mengharapkan anak-anak tidak banyak terkenal di dunia. Bukan untuk terkenal di bumi, melainkan ke langit. Terkenal di antara penghuni langit. Caranya bagaimana? Orang tua yang punya visi semacam ini, rela memasukkan anak-anaknya ke pesantren.

Baik anak-anak laki-laki maupun perempuan, dimasukkan ke pesantren, dengan tujuan utama jelas untuk menuntut ilmu agama Islam. Orang tua merasa kurang sekali memberikan pendidikan agama kepada anaknya sendiri. Oleh karena itu, membutuhkan bantuan pihak lain yang lebih berkompeten.

Lalu, apakah anak-anak yang masuk pesantren itu dari keinginan dan cita-cita orang tuanya saja? Rupanya tidak. Ada juga anak-anak yang memang dididik dengan pola bagus di keluarga sehingga menghasilkan semangat luar biasa memburu akhirat, terutama surga. Anak-anak semacam itu bercita-cita untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, paham ilmu agama Islam dan bisa menjadi pendakwah di tengah-tengah masyarakat yang terasa makin kacau ini.

Mereka dilatih dan terbiasa untuk memegang Al-Qur’an. Sedangkan anak-anak yang ingin menjadi Youtuber jelas pegangannya, HP atau tablet. Menonton Youtube setiap hari, dengan tayangan yang berbeda-beda. Padahal, bisa saja ada video dewasa yang menyerempet ke mata mereka. Pada saat itu, siapa yang bisa mencegah? Sementara anak-anak menontonnya di dalam kamar. Terkunci lagi! Orang tuanya sedang bekerja di luar rumah atau di dalam rumah, tetapi dengan aktivitas lain. Asalkan anak sudah dipegangi HP atau tablet, sudah tenang perasaan orang tuanya.

Marilah kita bertanya kepada anak-anak, mau jadi apa nanti ketika sudah dewasa? Apakah itu termasuk positif, ataukah negatif. Setidaknya, penilaian itu tidak dari orang tua sendiri, perlu orang yang lebih paham, terutama agama Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *